I have one heart. I will not waste it away. I have one life. I am not throwing it away.
#Suntikan Semangat#
Saturday, 20 September 2014
#TamanTepiJalan6
Dalam hidup ini, adakalanya tak memerlukan kita membongkar sejarah silam. ia mungkin lebih baik dibiarkan tertutup. Sejarah boleh menyakitkan bagi yang kalah tapi sejarah menjadi hebat bila ia ditulis oleh orang yang menang.
Friday, 19 September 2014
#TamanTepiJalan5
Sesekali datanglah ke arah bonda dari belakang
Dan peluk erat tubuh tua itu, seakan-akan esok kita tak dapat lagi memeluknya.
Kemudian bisikkan
" Terima kasih mak "
Jika ditanya, untuk apa?
Katakan untuk segalanya.
Dan peluk erat tubuh tua itu, seakan-akan esok kita tak dapat lagi memeluknya.
Kemudian bisikkan
" Terima kasih mak "
Jika ditanya, untuk apa?
Katakan untuk segalanya.
Friday, 12 September 2014
i love you ;)
Have you ever wondered which hurts
the most?
Saying something and wishing you
hadn't?
Or saying nothing and wishing you
had?
I guess the most important things
are the hardest things to say. Don't be afraid to TELL someone you love them.
If you do, they might break your heart...
If you don't, YOU might break
theirs.
Have you ever decided not to become
a couple because you were so afraid of losing what you already had with that
person?
You heart decides whom it likes and
whom it doesn't.
You CAN'T tell your heart what to
do. It does it on its own... when you least suspect it, or even when you don't
want it to.
Have you ever wanted to love someone
with everything you had, but that other person was too afraid to let you?
Too many of us stay walled up
because we are too afraid to care too much... for fear that the other person
does not care as much, or even at all.
Have you ever denied your feelings
for someone because your fear of rejection was too hard to handle?
We tell lies when we are afraid...
afraid of what we don't know, afraid of what others will think, afraid of what
will be found out about us.
But every time we tell a lie, the
thing we fear GROWS stronger.
Life is all about risks and it
REQUIRES you to jump.
Don't be a person who has to look
back and wonder what they WOULD have done, or COULD have had.
·
What
would you do if every time you fell in love you HAD to say good-bye?
·
What
would you do if every time you wanted someone they would never be there?
·
What
would you do if you best friend died tomorrow and you never got to tell them
how you felt? (even if YOU DON’T CARE ANYMORE)
·
What
would you do if you LOVED someone more than ever and you couldn’t have them?
·
What
would you do if you NEVER got the chance TO SAY I am friends with all of my
family and they know I love them?
·
People
live, but people die. I want to tell
you that you are a friend.
If you died tomorrow (God Forbid) YOU
WOULD BE IN MY HEART. WOULD I BE IN YOURS?
IF YOU care about me as much as I care
about you, you will send this back.
We might be
best friends one year, pretty good friends the next year, don’t talk that often
the next, and DON’T WANT TO TALK at all the year after that.
So, I just wanted to say, even if I never
talk to you again in my life, YOU ARE SPECIAL TO ME and you have made a
difference in my life.
I look up to you, respect you, truly cherish
you, most of all I CARE about friends.
Send this to
all your friends, no matter HOW OFTEN you talk, or HOW CLOSE you are, and send
it to the person who sent it to you.
LET OLD FRIENDS know you haven’t forgotten
them, and tell new friends you never will.
Remember, everyone needs a friend someday.
You might feel like you have NO FRIENDS at all, just remember this email and
take comfort in knowing somebody out there CARES ABOUT YOU AND ALWAYS WILL…
I care about YOU !!!
Now this is Aimy talking ;p
This might be one of many forwarded email, written anonymously, but
yea… though corny as it sounds, I DO mean all those above.
Fikir elok-elok :)
Bye2 and Assalamualaikum...
#TamanTepiJalan4
“Lima ganjaran orang yang menjaga solatnya… Pertama, Allah murahkan rezeki, kedua diangkat seksa kubur, ketiga menerima buku catitan di tangan kanan, keempat meniti titian sirat sepantas kilat dan yang kelima dapat masuk syurga tanpa hisab.”
Apa yang kita ada di dunia ni kadang-kadang boleh hilang sekelip mata. Jadi, jangan angkuh. Apa yang bakal berlaku di alam sana itu pasti. Jadi… tanpa persediaan yang cukup mampukah kita nak menempuhinya nanti?
"Memang tak mampu."
Al-Quran tak disentuh, Dzikir tak terbiasa, Sejadah selalu terlipat, Lalu, kau tanya mengapa hati tak tenang, Kau sendiri tau jawabannya.
“Iblis diperintahkan oleh Allah untuk sujud kepada Adam,
Dia enggan dan takabur, karena merasa lebih baik dari Adam
Manusia diperintahkan oleh Allah untuk sujud kepada Allah
Bila dia enggan dan takabur, apakah dia merasa lebih baik dari Allah?”
Firman Allah:
”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan SOMBONG, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al Israa’ :37)
Thursday, 11 September 2014
#TamanTepiJalan3
Tertera di skrin.
1 New Message.
" Kak bidadari. Look at the sky. We are not alone. The whole universe is friendly to us and conspires only to give the best to those who dream and work. Have are many star. And the star is like you. "
Senyum sambil memerhatikan di luar tingkap.
Ya, sudah agak sebenarnya.
Akan saja ada mesej dari adik itu apabila terlihat bintang yang berjuta di langit sana.
Cepat saya membalas.
" Yes sayang. We are not alone. If we can acknowledge our fear, we can realize that right now we are okay. Right now, today, we are still alive, and our bodies are working marvelously. Our eyes can still see the beautiful sky. And actually we are 'beautiful' more than the star in the sky"
- Message Delivered -
Senyum, satu kata indah singgah lagi di akal fikrah. Kata inilah yang selalu disebut-sebut oleh ummi.
Letaklah apa sahaja yang cantik pada pandangan mata kasar kalian.
Wanita seksi, harta, wang ringgit, kereta mewah, banglo besar, bulan, bintang, matahari, laut, pantai. Tetap tidak mengalahkan nilai cantik seorang 'wanita solehah'.
Masya-Allah !
Bidadariku, Jangan hanya jadi penebar pesona tapi kering 'intelektualnya'. Kontang 'maruahnya'.
Yaa ! Mari jadi bidadari di 'sana'
#copypaste bulat2 dari rakan alam maya
Ingin share baik2
#TamanTepiJalan2
" Bila hati sudah lupa, bukan mudah mahu memercikkan semula api cinta. Cinta yang pergi biarkan pergi. Biarkan ia lenyap dari hati. Jika kita menginginkan seseorang. Kemudian dia tidak menginginkan kita. Untuk apa bersedih? Masih ada insan di luar sana yang tahu menghargai erti 'pengorbanan cinta'. Hidup ini terlalu 'singkat' untuk menyakitkan hati semata-mata untuk orang yang 'salah' "
Friday, 5 September 2014
Tengah Serius
Tengah serius ni [genggam tangan kuat2] sambil buat muka serius...
Nak beli buku ni... sangat tertarik dengan sinopsis citer nie
Lagi2 bila dapat tahu yang buku ni dah jadi FILEM
"The Fault In Our Stars"
dengan ini jugak
"If I Stay"
warrghhh... rasa sakit hati pulakkk.
Perlu pergi kedai buku jugakkk...
Nak mereka dibawa pulang ke rumah
#TamanTepiJalan 1
Kalau berpura-pura dalam melakukan
sesuatu, itu hipokrit. Tapi kalau berpura-pura dengan harapan untuk mendapat
keredaan Allah, itu istikhlas.
Mungkin istilahnya baru, tapi
pelaksanaanya sudah lama. Sabda nabi, menangislah ketika membaca al-Quran. Jika
kamu tidak bisa menangis maka cubalah sedaya, jika tidak jua buat-buatlah
menangis. Dari hadis inilah para ulama menwujudkan istilah istikhlas.
Ikhlas itu seumpama semut hitam yang
berjalan atas batu hitam pada malam yang gelap.
“Jadi ikhlas itu tak
nampakkah?”
Ikhlas itu tiada siapa yang tahu,
malah malaikat pun tak tahu. Hanya Allah sahaja yang tahu tentang keikhlasan
amalan para hamba-Nya.
“Jadi… kalau awak kata saya
tak ikhlas sekalipun saya terima sebab saya sendiri pun tak tahu amalan saya
yang mana satukah yang ikhlas dan diterima Allah.”
Saturday, 30 August 2014
Story part 2
Assalamualaikum... pada 16 August kot.
Hari ni nak update story saya
Raya2 :)
Pergi TTJ excited ray dengan kawan
Pergi rumah Syahira dulu, tunggu ramai2 datang baru makan
Happy... mak Syahira masak nasii ayam merah kot, Tak silap lah.
Then, pergi rumah Amalia pulak, umminya cikgu di TTJ
Kat sini kelakar, macam2 dah macam buat rumah sendiri dah...
Gelak tak ingat dunia, nampak gambar Amalia yang dulu2 masa kecik2... Kelakar but comel
Menyaksikan Amalia garang dengan adiknya... Terkejut tak sangka dia garang.
Then, lepas dah lama2 sangat kat sini dah tahu nak buat apa dah...
Tak tahu nak pergi mana lepas tu sebab Sarahlah.
Tak jadi pergi rumah dia pulakk
Masa ni masing2 merungut
Hari ni nak update story saya
Raya2 :)
Pergi TTJ excited ray dengan kawan
Pergi rumah Syahira dulu, tunggu ramai2 datang baru makan
Happy... mak Syahira masak nasii ayam merah kot, Tak silap lah.
Then, pergi rumah Amalia pulak, umminya cikgu di TTJ
Kat sini kelakar, macam2 dah macam buat rumah sendiri dah...
Gelak tak ingat dunia, nampak gambar Amalia yang dulu2 masa kecik2... Kelakar but comel
Menyaksikan Amalia garang dengan adiknya... Terkejut tak sangka dia garang.
Then, lepas dah lama2 sangat kat sini dah tahu nak buat apa dah...
Tak tahu nak pergi mana lepas tu sebab Sarahlah.
Tak jadi pergi rumah dia pulakk
Masa ni masing2 merungut
Hani dengan Amira nak pergi raya umah orang lain
Tapi kami yang lain tak nak
Dalam kereta cikgu, kat luar kereta cikgu kelakar sangat.
Jadi...
Kami pergi taman permainan, Hani dengan Amira sahaja yang pergi beraya
Sampai2 sana seronok sebab dapat main buaian
Best sangat masa ni.. teringat zaman budak2 dulu...
Enjoys masa ni cuma Sarah ajelah rumah raya tak jadi... [Ketawa] masa tu jelah marah, skrang tak dah.
Dalam gambar ni tak ada gambar Amalia. Tak tahu dia pergi mana mungkin tak upload kot oleh Sarah sebab gamabr ni Sarah yang bagi.
Bye :)
1 August; baru perasan jugakk...
Qamarina takde dlm gmbr lah :)
Difficult Word To Say
Saturday, 12 July 2014
Cinta Setia Demi Dia
Somehow I just can't believe
You can lay your eyes on me
If this is a fairytale
I wish it will end happily
If this is a fairytale
I wish it will end happily
____________________________________________
Izzat : Pejam mata kejap
Ain : [Ketawa] Buat apa? Taknak!
Izzat : Pejamlah... [Izzat memujuk]
Ain : Ok.
Ain memejam rapat matanya. Izzat bangun dari duduknya. Seutas rantai berloket berlian dipakai indah di leher milik Ain. Ain pantas buka mata. Izzat geleng kepala.
Ain : What? Izzat... It's beautiful. Really beautiful.
Ain tersenyum senang. Tak sangka Izzat buat suprise seperti ini.
Izzat : Suka tak? Itu aje yang mampu.
Ain : Suka. Suka sangat... Thank you but for what. Must be something behind this. Right?
Izzat : You're brilliant girl. Honestly, inside from my heart... I love you. I really, really wanted to be your man. The man who'll give you the first kiss... menyentuh dan menjadi orang pertama... the one and only, who will touch you.
Ain : Maksud you?
Izzat : Will you marry me Nur Ain binti Baharin? Do you want to live together forever with me? We can sweetly love each other. Have a baby that looks like me, a baby that looks like you.
Ain : Izzat... [Airmatanya mengalir pertama kali untuk insan ini. Airmata gembira. Tidak pernah disangka Izzat melamar dia sejak pertama kali jumpa tika dia berumur 17tahun. Ain tersenyum dalam tangisannya]
Izzat : Will you?
Ain : Yes. I will. I'll love you more. I'll care for you more. When tears fall and it's hard. When it hurts, we'll hurt together... and I'll love you forever. I want to be your wife forever, only you.
Izzat : Yeah! Dah lama tunggu... hari ini pengakhiran penantian I. Nanti you jangan nak mengoda lelaki lain pulak sebab I dah cop you dulu.
Ain : Cop?!
***
Izzat : Thank you, honey. Rupa dia sama macam you. Mata dia pulak macam I. Cantik. Handsome macam I. Kan?
Ain : Eleh, perasannya. Ada orang angkat bakul sendiri.
Izzat : Hello... Siapa perasan? Kalau tak muka handsome ni, baby Ikhwan kita ni tak keluar tau! Penangan Izzat ni, honey kita surrender ok?
Ain : [Ketawa] Suka hatilah. Malas nak layan dia. Ikhwan, tengok papa... dia perasan sendiri. Ikhwan nanti bila besar, jangan tiru ikut perangai papa tau! Jadi macam mama. Mama baik, cantik, penyayang sebab tu papa tergoda dengan mama. Ok baby Ikhwan?
Izzat : [Tersenyum lantas laju tangannya mencubit pipi gebu Ain. Geram]
Ain : [Mengosok pipinya yang merah] Aduh! Suka hati cubit pipi kita.
Izzat : Siapa suruh perasan sangat. Kata kita tapi dia pun sama. Cakap dekat Ikhwan pulak tu. Siap nasihat sekali. Kita baik apa, cuma dia yang buat kita terpikat sebab tu kita tergoda dengan dia.
Ain : Eleh, main 'kita' 'dia' pulak dia ni. Alaa... Ain gurau aje la. Jangan ambik hati. Ok?
Izzat dan Ain serentak ketawa. Masing-masing melayan perasaan sendiri sambil tangan lincah mencubit pipi tembam milik anak mereka, Ikhwan. Kerana aku mencintaimu maka aku ingin menjagamu.
Izzat: I'm thankful that I met someone as great as you. I want to love only you everyday. No matter how i think of it, you're number one person until our black hair turns white as snow and until our lives end.
Ain : Me too. Dahlah, jangan nak bawa ayat jiwang you kat baby kita. Nanti dia meresap pulak masuk dalam otak dia.
Izzat : [Ketawa]
Even now we are apart
I can feel you here next to me
Here and now I will love
Stay with me
I can feel you here next to me
Here and now I will love
Stay with me
___________________________________________
Ain : Awak nak pergi mana lewat malam macam ni?
Izzat : Ada mesyuarat. Saya pergi dulu.
Ain : Awak... Salam?
Ain mengambil tangan Izzat lalu memyalam dan menciumnya. Izzat termangu. Ain angkat kepala. Senyum. Izzat laju beredar keluar dari rumah. Ain mengeluh. Tiada lagi kucupan kasih pada dahinya lagi. Izzat berubah.
***
Ain : Awak... mari makan. Saya dah masak lauk faveret awak. Masak lemak cili padi. Jom. Nanti sejuk pulak.
Izzat : Soory Ain... Hari ni tak boleh. Saya dah janji dengan kawan saya nak makan dekat luar. Nanti-nanti ajelah ye.
Ain : Tapi... saya dah masak. Jomlah. Rasa sikit pun tak apa.
Izzat : Ain...
Ain menarik Izzat duduk dihadapan meja. Pinggan berlaukkan kegemaran Izzat dihulurkan. Menanti Izzat menyuap rezeki itu kemulut.
Izzat mengeluh. Matanya tajam mengerlung Ain.
Ain : Makanlah.
Izzat menyuap sesuap nasi kemulutnya. Kemudian dia bangun dari duduknya. Laju kakinya melangkah keluar. Ain berlari mengejar Izzat namun tidak sempat. Izzat dah pergi dengan kereta dipandu laju.
Ain : Penat saya masak... Saya tak sempat salam awak pun...
***
Izzat : Maaf. Saya minta maaf.
Ain : Maaf? Kenapa? Awak ada buat salah dengan saya ke?
Izzat : Tak
Ain mengerut dahinya. Tangannya mengusap lembut tangan Izzat. Memberi semangat untuk berkongsi cerita. Mungkin.
Ain : Cubalah cerita pada saya. Mana tahu saya boleh tolong.
Izzat pandang wajah Ain. Ain membalas dengan senyuman manis padanya.
Izzat : Nur Ain binti Baharin... saya ceraikan awak dengan talak satu.
Izzat bangun. Ain pantas menarik tangan Izzat.
Ain : Awak...
Izzat : [Diam]
Ain : Jangan pergi... saya perlukan awak lagi. Jangan buang saya.
Let me love you
With all my heart
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again
I wanna feel love again
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again
I wanna feel love again
I wanna feel love again
And I know
Love is you
Love is you
_______________________________
Sofia : Dahlah... jangan menangis lagi. Tak baik macam ni. Ikhwan needs you, Ain.
Ain : Tapi... aku tak boleh. Aku perlu dia. Dia dah janji dengan aku.
Sofia : Ain... come on. Walau macam mana sekali pun, Izzat tak akan datang. Dia bukan Nabi. Dia akan mungkir janji suatu hari nanti kalau bukan hari ini pun. Dia dah ada pilihan lain. Kau kena reda...
Ain : Dia dah janji dengan aku... Kenapa dia kahwin lain? Kenapa dia ceraikan aku? Aku dah tak cantik lagi ke? Masakan aku tak sedap? Aku ni ada buat salah dengan dia ke sebab tu dia kahwin lain...
Sofia : Ain... cukuplah. Ikhwan perlukan ibu. Ikhwan perlukan kau. Jangan nangis lagi.
Ain mengesat airmatanya. Sungguh, dia tidak percaya selama ni Izzat menipu dia. Patutlah, setiap bulan katanya kerja outstation, tetapi ada perempuan lain rupa-rupanya. Patutlah bila call waktu lunch seperti selalu dia tak angkat, rupa-rupanya dia lunch dengan perempuan lain. Patutlah dia macam nak tak nak layan Ikhwan, rupa-rupanya dia selalu kena layan dari perempuan lain. Patutlah selama ini dia selalu marah-marah, tengking-tengking, rupa-rupanya dia tak suka lagi kat aku. Sampai hati awak, Izzat.
***
Saya mencintaimu sebisa diri saya. Tanpa haru yang menderu, tanpa hati yang mematri. Saya mencintai awak senyaman langkah saya. Tanpa untaian kata cinta dari awak lagi. Tanpa keberadaan yang berpadu dan hanya banyangan hati saya dan hati awak yang menyatu. Kerana cinta ini bukan dosa. Tapi cinta ini adalah kejujuran jiwa hingga sampai nanti indah pada waktunya dahulu.
Ain : Ikhwan, mari sini. Dah petang. Jom balik.
Ikhwan berlari anak menerpa ke arah Ain dengan ketawa. Ain memeluk Ikhwan erat. Rindu. Walaupun Ikhwan hanya bermain di laman rumah tetapi tetap dirindu.
Ikhwan : Mama... Papa balik?
Ain : Tak tahu
Ikhwan : Mama nanti telefon papa. Suruh balik.
Ain : Kenapa?
Ikhwan : Nak bagi hadiah. Kan hari ni hari jadi papa.
Ain: [Tersenyum] Yelah. Kuatnya ingatan dia. Nanti mama call.
***
Ikhwan : Papa...
Ain : Anak you nak bagi special for you...
Izzat : Ya, Ikhwan.
Ikhwan: Nah.
Izzat tersenyum tawar melihat hasil lukisan anaknya. Gambaran sebuah keluarga bahagia. Ikhwan memerlukannya dan Ain sangat memerlukan dia. Izzat mengerling Ain yang sibuk menyediakan makanan di meja.
Izzat : Thanks dear..
Ikhwan : Welcome...
Izzat : Ain...
Ain : [Senyap]
Izzat : Saya minta maaf... lupakan janji saya. Lupakan saya.
Ain : Sometimes the best memories are sad because you know that they will never happen again. I’m going to miss you. I bertuah kerana berpeluang menjadi wanita yg pernah menikmati cinta you. Juga bertuah menjadi wanita yg mencintai you. Just remember one thing, i will always love you and always do... Happy birthdays, Izzat.
Izzat : You better hidup gembira, Ain. Jangan tunggu I. I dah kahwin Ain...
Ain : Bahagia bukan bermakna memiliki sahaja. Bahagia juga bermakna melepaskan diia... mendoakan dia. Memerhatinya dari jauh... I akan setia pada you... Janji you I ingat..
Izzat : Ain... tapi I tak ada berdiri sama sebelah you lagi
Ain : Allah ada... I setia pada you dan I lagi setia pada Allah. DIA sentiasa di sisi I dan Ikhwan...
Izzat : Ain... tapi I tak ada berdiri sama sebelah you lagi
Ain : Allah ada... I setia pada you dan I lagi setia pada Allah. DIA sentiasa di sisi I dan Ikhwan...
-TAMAT-
Friday, 11 July 2014
Ku Pilih Hatimu [1]
Ku pilih hatimu
Tak ada ku ragu
Mencintamu adalah hal yang terindah
Setiap nafasku hembuskan namamu
Sumpah mati hati ini ingin memilikmu
Janganlah kau sakiti cinta ini
Sampai nanti di saat ragaku sudah tidak bernyawa lagi
kerna sungguh cinta ini
Cinta yang rasa kasih dan sayang hingga hujung nyawaku
***
"Awak... saya nak
awak janji sesuatu dengan saya. Boleh?" tanya lelaki itu persis seorang
penyiasat yang menyiasat seorang penjenayah.
Gadis itu melihat wajah itu. Senyuman manis terukir di bibirnya.
Dia mengangguk kepalanya.
"Kalau suatu hari nanti, bila kita semua dah besar, Saya nak
awak janji dengan saya yang kita akan kekal selamanya di sini." Lelaki itu
menarik tangan kanak-kanak perempuan kacukan ala-ala cina itu dan diletakkan di
dadanya. "Saya dan awak sentiasa bersama dalam hati kita. Dan kita akan
berjumpa lagi dekat sini, waktu yang sama dan pada tarikh mula-mula kita
berjumpa. Kita akan berjumpa selepas 16 tahun. "
Gadis itu memandang lelaki melayu itu. Mukanya berkerut tidak
mengerti.
"Boleh."
"Tapi ada syarat..."
"Syarat?" soal gadis itu.
"Sepanjang itu kita tak boleh berhubung langsung antara kita.
Boleh awak janji?"
"Kenapa kita tak boleh berhubung? Tanya khabar?"
Lelaki itu tersenyum melihat seraut wajah yang akan dirinduinya
itu.
"Biar takdir yang temukan kita. Biar hati kita yang sentiasa
berhubung tanpa kita sendiri sedar."
"Tapi..."
__________________
"Kau apasal pakai nada dering sama macam aku? Bila kau tukar?"
"Biarlah. Sibuk je kau!"
"Tapi memang betul. Perempuan ni fikiran
dan perasaan dia memang kompleks." Ayim beritahu fakta yang dia tahu.
Tiba-tiba sahaja dia mengutaranya spontan. Entah, dia sendiri tidak tahu.
"Mungkin. “
“Aku nak tanya kau satu soalan. Kau jawab
betul-betul. Kau sebenarnya nak lelaki macam mana erk?”
“Aku pun tak tahu lelaki macam mana yang aku
nak cari."
"Isya, kau tanya hati kecil kau. Dengar
apa yang terlintas. Apa yang terlintas itulah sebenarnya apa yang kau
nak."
Isya diam. Tiada respons.
"Kau dengar tak ni? Mengelamun
pulak." Ayim menolak bahu Isya kuat.
Lantaklah! Siapa suruh mengelamun bila aku tengah bercakap.
"Kau tahu tak aku nak lelaki macam mana?"
"Macam mana?"
"Aku nak lelaki yang mencintai aku sepenuh jiwa raga dia.
Lepas itu, aku nak lelaki yang terima kekurangan aku seadanya." beritahu
Isya bangga.
"Jiwanglah kau ni! Suka berangan,
jiwang. Geli aku." Ayim menarik kuat telinga milik Isya. Dia
ketawa lihat muka itik wanita itu.
"Isshh... sakitlah senget!" marah.
Isya menjarak dirinya dari Ayim. Hesy, bukan boleh percaya pun mamat ni! Sesuka
hati aje tarik-tarik telinga aku, omel Isya dalam hati.
______________
"Woi! Sampai bila kau nak mengelamun
hah! Dari tadi aku tengok kau tak sudah-sudah terkumat-kamit. Kau baca jampi ke
apa?" sergah Hariz secara tiba-tiba.
Fatihah terkejut. Pucat mukanya bila disergah
sebegitu. Kepalanya pantas memaling kebelakang melihat tuan empunya badan. Hesy, lelaki ini, kang ada yang makan kasut saiz lima nanti.
"Kau lain kali tak boleh ke beri salam
cara hormat sikit. Nak aku ajar ke macam mana
caranya?" balas Fatihah geram. Sudah banyak kali dia mengajar Hariz cara
memberi salam. Terasa dirinya seperti cikgu tadika ajar anak murid ABC. Tapi
Hariz? Buang masa dia sahaja. Buang air liur!
"Nak tuduh elok-elok sikit erk. Aku dah bagi salam kat kau
banyak kali dah tapi kau yang berangan jauh nun sana. Pi negara orang England
tu. Cik datang sini depa tak mau dengar, " ujar Hariz tidak puas hati.
Sudah lama dia berada di belakang Fatihah tetapi budak comot ini
tidak perasan pula. Bila hampir 15
minit dia berdiri, itu yang dia sergah Fatihah. Mana ada bagi salam pun.
"Eh, ye ke. Tak perasan pun," Fatihah cuba mengingat
kembali jika memang ada ke mendengar orang bagi salam. Tak ada pun!
"Macam mana kau tak perasan, sebab kau tu pekak badak. Dari
tadi mengelamun. Mulut kau baca jampi entah apa-apa. Kau kenapa?" soal
Hariz.
"Mana ada apa-apa. Aku tak baca jampi
pun. Memandai aje."
"Hek eleh. Nak mengelak pulak. Macam aku tak nampak aje.
Agaknya kalau ada gempa bumi pun kau tak perasan bila bumi ini terbalik."
Hiperbola hariz yang melampau.
"Kau jahatlah, Hariz!!! Mezti kau dah lama kat sini
kan?" teka Fatihah yakin. Yakin Hariz mesti sudah lihat setiap gerak
gerinya. Harap-harap tak nampak yang itu.
Hariz ketawa kuat. Kelakar melihat wajah yang sudah kemerahan
marah. Mestilah nampak yang itu, jawab hati Hariz seolah-olah tahu apa yang
difikir Fatihah.
"Alaa, kau jangan risaulah. Aku tak akan hebohkan kat orang
kampung pun."
"Maksud kau?"
"Ni... semuanya selamat di dalam ini." hariz menunjuk
telefon bimbitnya pada Fatihah sambil tersenyum penuh makna yang sukar ditafsir
oleh Fatihah.
Fatihah membulat matanya. Perasaan kini bercampur baur sama ada
dia memang tengah marah plus geram kali malu equal sakit hati pada lelaki ini.
Hampeh ubi masin kembang punya Hariz!
"Kejam la kau... Kau... arrgghh! Baik kau delete balik." jerit Fatihah kuat. Tepat pada
gegendang telinga Hariz. Biar pekak terus.
"Sorry naik lorry la. Tak boleh."
"Delete la,"
"No. Saya kata 'no'!!" usik Hariz dengan suara yang
sengaja dilembut lembik.
"Delete, delete, delete la Hariz..." rayu Fatihah dengan
aksi comel. Tapi tak berkesan langsung.
"Hariz, please... malulah aku nanti. Kau tu bukan boleh
percaya pun nanti kau masuk kat youtube." Oh, tidak tak sanggup dia!
Arghhh...
"Aku tak jahat macam tu lah. Fikir negatif sangat la kau
ni."
"Memang aku patut fikir negatif pun
dekat kau."
"Issh. Baiklah tuan puteri, patik menurut yang
diperintah,"
“Bagus…” Fatihah sudah tersenyum kemenangan. Baik juga hati Hariz
ni.
“Tapi dengan syarat.” Hafiz tersengih.
Fatihah tarik senyum balik. Hesy, sia-sia sahaja puji dia. Tarik balik, tarik balik.
“Leceh la, ada syarat-syarat semua ni. “
“Suka hati lah. Nak tak?” soal Hariz.
“Ye lah. Syarat apa?”
“Kau kena…” Hafiz membina ayat tergantung. Tak sabra nak tengok
reaksi budak comot ni.
“Kena, kena. Aku kena apa? Cepatlah cakap lepas tu delete balik
apa yang kau Nampak tadi.”
“Sabarlah. Aku tengah bina ayat kau menyampuk. Kalau kau nak aku
delete balik, kau kena cium aku kat sini.” Hariz menghala pipinya pada Fatihah.
Dia simpan senyum. Mana boleh lebih-lebih.
Fatihah menahan geram. Hafiz memang hampagas! Mukanya sudak naik
kemerahan. Eeee… dia memang nak minta makan kasut!!
“Hesy, syarat apa benda tu. Kurang asam! Miang.” Fatihah menolak pipi Hariz kasar. Nasib baik
sahaja tidak tergolek jatuh.
“Alaa… so bila kau tidak penuhi terma dan syarat-syarat aku. Minta maaflah… “
“Mana aci… syarat apa tu.”
“Syarat aku lah.”
“Delete apa yang kau rakam tu.”
“Tak boleh.”
“Kena jugak.” Fatihah cuba menghampiri Hariz
yang seolah-olah cuba menjauh diri darinya.
“Sayang dulu kat sini.” Hariz menunjuk pipi
kirinya pada Fatihah. Dia tergelak sakan melihat reaksi
Fatihah seperti harimau lapar yang jumpa mangsa.
“Never.”
“Bye Tihah. Aku akan simpan elok-elok ya,” Hariz dengan pantas
melarikan diri selaju mungkin. Takut dikejar Fatihah.
“Hariz!!” Kurang asam punya budak. Hesy, dasar paramecium tak
cukup antibiotic. Hariz ni
sengaja cari maut dengan dia, bentak Fatihah geram.
__________________
“Senget… kalau suatu hari nanti kau dapat
duduk kat atas langit tu… kau nak jadi apa?”
“Aku… aku nak jadi salah satu daripada
bintang-bintang tu. Kalau kau apa?” Isya tanya soalan yang
sama.
Ayim diam.
“Issh, kalau kau apa? Diam pulak dia!” marah Isya. Pantang dia
kalau dia tanya, orang tidak menjawab. Macam cakap dengan batu.
“Eh… tuuuu. Kau Nampak tak tadi?” serentak itu Ayim bangun dari
pembaringannya. Isya
mencari-cari apa yang dutunjuk oleh Ayim tadi.
“Apa?”
“Kau nampak tak? Tahi bintang.”
“Tak… cepat sangatlah. Tak perasan.”
“Kalau aku ada sakti, aku nak pinjamkan kedua belah mata aku pada
orang yang tak nampak apa yang kita sedang tengok sekarang. Aku nak jadi macam
tu.” Kata Ayim sambil tersenyum. Senyuman yang mampu membuat mana-mana gadis
jatuh hati padanya. Itulah tarikan dia.
“Tapi, orang cakap kalau tahi bintang tu umurnya pendek.” Jawab
Isya.
“Tak kisahlah umur dia pendek atau panjang. Yang penting, aku
dapat buat sesuatu yang orang akan kagum dengan aku. Yang orang tak akan dapat
lupakan aku.”
Isya membisu dan hanya menjadi pendengar sahaja.
“Tapi, bukankah kalau bintang macam itu ada petanda?”
soal Ayim. Memandang kembali langit malam yang indah dengan bintang-bintang
itu. Cantik.
“Memanglah. Itu maknanya, kau ni hanya akan jadi petanda sahaja. Orang sekarang ni tak tengoklah semua tu.
Orang tengok apa yang terjadi. Bukannya tengok isyarat atau
tanda.” Ujar Isya menjawab soalan Ayim.
“Lebih baik jadi petanda daripada jadi
bintang macam kau dekat atas tu dan lihat apa yang berlaku dekat bawah.”
“Ayim… nanti kalau kau dah jatuh, tinggallah
aku sorang saja dekat atas tu. Kasihan kan? Sanggup ke kau tinggalkan aku?”
“Nanti kau carilah aku dekat situ,” Ayim
menunjuk tunjuk arah dengan telunjuk jarinya. “Itu akan menjadi galaksi cinta
platonic kita.”
“Isshh… kau ni jiwang juga kan. Cakap aku je. Dahlah tak payah nak merepek lagi. Jom kita balik.
Dah lewat malam ni.”
“Hmm. Jom.” Ayim tersenyum. Jiwang ke dia? Bukan philosophy
kehidupan ke? Erk...
“Eh, jap. Nanti kau jangan lupa carikan jejaka idaman untuk aku
erk?”
Isya sudah tersengih panjang. Bukannya dia tidak laku, tapi dia
sibuk mana ada masa nak cari jodoh ni semua.
“Ye, Dah jom balik.”
_________________
Gulppp...
Fatihah menelan air liur
banyak-banyak. Gila tak gila, apa yang dia taknak , tiba-tiba jadi realiti.
Maknanya, betullah Aunty Naimah datang secara mengejut hari ini ada maksud
sebaliknya.
Air liur tidak lagi tertahan...
“Fatihah, ya?” Faihah tersentak
demi mendengarkan satu suara wanita menegurnya. Langsung terjatuh buku yang
dipegangnya ke lantai dek sergahan itu. Wanita yang dikira sebaya ibunya
tersenyum manis mengambil bukunya yang terjatuh tadi. Tangannya diraih dan
membawa dia duduk di katil.
“Maaf, aunty terkejutkan Fatihah. Cantiknya anak dara Teja ni. Dah besar pun!”
sambungnya sejurus kemudian.
Fatihah diam
lagi. Masih terpinga-pinga. Pakaiannya jelas berbeza dengan ibu. Ibu hanya
sekadar berbaju kurung dan berkain batik tetapi wanita ini pula berlabuci dan
bermanik. Mahu ratusan ringgit.
“Fatihah tak kenal Aunty?” tanya
wanita ini lagi. Fatihah angguk. Kenal tujuh tahun lepas kali terakhir keluarga
Aunty Naimah datang berkunjung kerumah kami bagi melawat ibu, kawannya yang
tidak sihat. Selepas itu, Fatihah langsung tak Nampak mereka.
“Baguslah... aunty kawan lama mak
Fatihah. Lama tak datang sini. Aunty ada hajat datang kesini!”
Haa, kan sudah diagak tadi, pasti
mereka ada udang di sebalik batu. Fatihah bukanlah budak kampong yang terlalu
naïf untuk ku tafsirkan maksud kedatangan mereka, bisik hati kecilnya.
“Hajat?” tanya Fatihah. Soalan
buat-buat tidak tahu padahal dalam hati sudah rasa seram semacam dengan
pernyataan Aunty Naimah.
“Aunty nak pinang Fatihah untuk
anak Aunty. Harap Fatihah setuju. Aunty dah tanya mak dan ayah Fatihah. Mereka
tak kisah. Mereka suruh Aunty tanya tuan empunya badan dulu.”
Tiada hujan, tiada ribut , tiba-tiba
wanita ini datang memninagnya secara mengejut tanpa diri bersedia dan tanpa diri
ini kenal lelaki yang akan menjadi pasanganku selama-lamanya. Cepatnya
jodoh aku datang?
“Ibu ingat Tihah tak ada kat rumah
tadi,” tegur ibu tiba-tiba.
Fatihah kalih pada ibu. Dia
tersenyum gembira dan dia balasnya dengan senyuman separuh manis.
“Tihah ada je, ibu...” jawabnya
lemah.
Ibu duduk di sebelah kiri manakala
wanita tadi pula duduk disebelah kanan. Sekarang ini dia sudah diapit di
tengah-tengah.
“Mah dah cakap dengan Tihah,’’ ujar
Aunty Naimah pada emak. Fatihah hanya
berdiam diri seperti tadi.
‘’Ibu harap
Tihah setuju. Dia ada kat luar tu. Nanti Tihah boleh kenal dengan dia.
Pergilah. ‘’ ucap ibu separuh berbisik. Tengok tu, memang paksa rela.
Wajah Hariz
terlayar di hadapanku. Berharap dia berada disisi bagi menyelamatkan dia yang
tersangkut di tengah-tengah jalan buntu ini. Tak nak kecilkan hati ibu, tapi dia dah pilih hati lain.
***
Fatihah duduk di bangku menghadap
padi sawah yang terbentang luas dihadapan mataku. Inginnya mencari ketenangan
dalam diri waktu petang begini. Berfikir dan menimbang permintaan ibu yang
mahukan dia relakan sahaja hati menerima pinangan Aunty Naimah untuk anaknya,
Saiful Qayim.
‘’Jodoh tak datang dua kali,
Tihah!” Itulah kata-kata ibu yang menganggu fikirannya.
“Aku nak balik KL dah. Aku harap
kau terima ajelah!” tegur satu suara tiba-tiba. Eleh senang-senang aje nak aku
terima. Harapkan rupa aje macam JungKook tapi no manners! Wajah Ayim dipandang
sekilas.
“Nanti-nantilah aku fikirkan. Tak
payah nak paksa. Ini soal hati aku, kau apa tahu?” balas Fatihah seadanya
bercampur geram.
“Tak payahlah fikir-fikir. Terima
ajelah. Apa susah!” tekannya keras. Dia seraya melabuhkan duduk diatas bangku
bersebelahan dengan dirinya, Fatihah menjauh darinya.
“Kau tak ada girlfriend ke? Terima
aje pilihan mak kau?” soalan itu ku utarakan tanpa dia sedari.
Mulutku aku tepuk perlahan. Ayim
berjeda. Dia tidak menjawab pertanyaanku tadi dan aku anggap bahawa dia memang
ada pilihan sendiri, kata hati Fatihah.
Ayim dan Fatihah, masing-masing
mengeluh berat.
“Dahlah. Aku nak balik. Aku nak kau
fikir elok-elok. Bukan ada orang nak masuk pinang kau selain aku yang kebetulan
datang hari ini.” Ujarnya setelah lama kami berdiam diri. Ayim lantas bangkit
dari duduknya dan berlalu meninggalkan dia bersendirian.
“Baliklah.” Fatihah tidak ada mood
nak bercakap panjang dengannya. Siapa cakap
aku tak ada orang minat? Dialah. Muka Ayim ada iras-iras rupa dia. Tak akanlah.
Nama?’ bisik hati kecilnya.
____________________
Bagau-bagau
serta sekumpulan kerbau di sawan bedang menarik perhatiannya. Ibu keluar awal pagi lagi, katanya;
urusan mesyuarat persatuan antara kampong-kampung. Selama ini dia tinggal kat
sini, tak pernah pulak dengar persatuan kelab kampung.
“Assalamualaikum... Teacher
Fatihah! Teacher tengah buat apa?” Hariz tiba-tiba menyampuk duduk sekali
dengannya. Tak tahu malu! Fatihah memandang Hariz. Senyum.
“Oh, Hariz! Pandai, dah bagi salam
dah.”
“Kan? Kau kenapa?” Hariz mula
membuat soal-siasat.
“Tak ada apa-apa. Kau kenapa?”
“Tanya aku pulak! Tak payahlah
menipu. Aku kenal kau dah lama dah. Kau sorok macam mana pun aku tahu kau
berlakon memanjang. Buat dosa kering aje...” Hariz tidak lepas pandang wajah
Fatihah yang berkerut seribu ini.
“Kau tak payah sibuklah. Kau tahu
ajelah budak-budak, macam-macam masalahnya. Kau... jangan sibuk-sibuk.” Fatihah
bernada tegas. Pemandangan sawah padi yang menguning itu lebih menarik minatnya
bagi menenangkan diri dari masalahnya sendiri. Mana mungkin dia perlu beritahu
Hariz perkara yang sebenarnya. Hesy, tak boleh!
Hariz mengangkat keningnya yang
terletak cantik. Dia pelik dengan perilaku Fatihah yang sejak dua menjak ini
asyik ingin mengelak diri darinya. Semua perkara dirahsiakan. Kalau dulu setiap
hari mesti kena berjumpa. Kalau tak,
berjumpa mesti dalam sehari itu rasa lain macam. Segala rahsia antara dia dan Fatihah semuannya bukan rahsia antara
mereka. Sekarang?
“Tihah, aku nak tanya kau
sesuatulah. Boleh?”
“Sejak bila kau minta izin nak
tanya aku pulak?” Fatihah tersenyum pelik pada Hariz.
“Kenapa sejak kebelakangan ni, kau
macam nak lari dari berjumpa dengan aku. Aku ada buat salah ke?”
“Mana ada. Aku macam biasa aje.
Mana ada lari. Sekarang ni kan aku tengah lari ke jumpa kau?”
“Sekarang memang taklah. Tapi
sebelum ni, kau nampak aku macam hantu. Kau boleh buat tak tahu dengan aku,
boleh pulak tu patah balik pergi tempat lain. Aku rasa kau ni...” Hariz ingin
memberitahu perkara sepatutnya Fatihah tahu. Fatihah memang lain.
“Dahlah kau. Merepek aje. Aku nak
balik, nanti ibu aku marah pulak! Naya aje aku kena baling dengan lesung batu!
Bye.” Fatihah tergesa-gesa bangun dari tempat duduknya dan tiba-tiba terasa
ingin terjatuh disebabkan hariz pantas memegang pergelangannya. Kuat!
“Issh, kau ni kenapa Hariz? Tarik-tarik
tangan aku pula! Lepaslah. Aku nak balik cepat.” Fatihah sedaya-upaya cuba
melepaskan tangannya dari dipegang oleh Hariz tapi usahanya sia-sia. Hariz
pegang kuat. Dia taknak rahsianya terbongkar nanti.
“Tihah, kau kenapa? Kalau aku ada
buat salah, aku minta maaf tapi tolong... jangan buat aku macam ni.” Hariz memandang tepat anak mata gadis itu.
Mencari sesuatu di sebalik mata hitam itu.
Fatihah cuba melarikan pandangan ke
arah lain bagi mengelak dari tenungan tajam Hariz.
‘’Hariz bin Mikail. Kau tak
salah apa-apa pun. Aku Cuma nak balik. Ok ? ‘’ Muka lelaki itu sungguh
serius. Hariz betul-betul marah dengannya.
“Hariz,
lepaskan tangan kau tu. Sakit tahu tak ? ‘’
‘’Selepas kau
beritahu masalah kau kat aku.’’
‘’Tak ada apalah. Mungkin masa tu
aku sibuk ke, tertinggal sesuatu ke, so tak dapatlah jumpa kau. ‘’
‘’Kenapa mesti ‘mungkin’?”
“Jangan sampai aku jerit dan cakap
kau buat gangguan seksual kat aku.” Guna kuasa ugut pulak. Fatihah tahu, Hariz
tak akan makan saman punya.
“Cubalah kalau kau berani.”
Fatihah tidak keruan. Tangannya
terasa kebas dek penangan gengaman Hariz yang kuat. Aku memang tak berani. Tapi
kalau kau tahu, aku tak sampai hati... bicara Fatihah di hatinya.
“Aku tak nak antara kita ada yang
sakit hati.”
Hariz
tergaman. “Apa maksud kau?”
“Tarik tangan
kau dulu. Tak pasal darah aku tak
mengalir. ‘’
Hariz automatik melepaskan
tangannya. Ayat Fatihah tadi seolah-olah ada perkara besar yang berlaku dalam
hidupnya.
Fatihah mengosok tangannya yang
merah itu. Kuat gila Hariz pegang, boleh patah macam ni. Hesy, macam mana nak beritahu. Nanti dia...
dapat terima ke? Bisik hati kecilnya sendiri.
“Cepatlah beritahu aku. Apa maksud
kau tadi. Kenapa kau kata tak nak antara aku dengan kau ada yang sakit? Ada
something yang berlaku ke?”
Fatihah tarik nafas
sedalam-dalamnya. Dia perlukan keberanian yang kuat. “Sebenarnya... aku...”
“Aku apa?”
________________________
“Kau nak kahwin? Bulan depan pulak tu!” Hakimi
separuh menjerit. Semestinya dia terkejut sebab Ayim mana makwe, kalau dengan
Isya tak jugak tapi bolehlah diterima. Tapi ini... budak kampung. Bukan taste
Ayim!
“Hmmm...” Ayim hanya menghadap buku
ditangannya bertajuk, ‘Sacrifices’. Memang tepat, sesuai dengannya
ketika ini. Matanya melirik pada riak muka Isya.
“Isya, kenapa senyap aje?” tanya
Hakimi yang melihatkan Isya yang asyik dengan telefon bimbitnya sejak tadi.
Hakimi mengankat bahu pada Ayim agar menegur Isya serupa patung cendana itu.
Isya angkat muka. Ayim dan Hakimi
pula saling bertolak bahu sambil pandang dia.
“Apa?” Isya bersuara tiba-tiba
apabila Hakimi dan Ayim berinteraksi menggunakan bahasa isyarat. ‘Bisu ke
apa?’, gumannya.
“Tak ada. Kau kenapa?” Ayim tanya
Isya.
“Dengar lagulah. Ni hearphone, tak
nampak? Borak apa guna bahasa isyarat?”
Hakimi menoleh memandang Ayim.
Tiada respons. Dia kembali memandang Isya. Senyum.
Isya pelik. “Apa? Cakaplah.”
“Ayim, nak kahwin bulan depan.
Dengar tak?” Hakimi menjelaskan yang sebenarnya pada Isya. Tapi, Isya tak
terkejut pulak! Muka relaks.
Senyap.
“Isya?” Ayim tegur.
“Oh sorry. Congrats,
Ayim. Tak tahu pun ada girlfriend selama ni. Sebab tu pelik sikit.” Isya
senyum tawar. Tawar macam paya air tawar.
Ayim tunduk kebawah menghadap buku dipegangnya.
Dia mengeluh lemah. Satu perkataan yang tepat untuk dirinya, PASRAH!
_____________________
Ayim menghadap Tasik Titiwangsa
yang masih ramai pengunjung pada waktu malam bersama keluarga, pasangan mereka.
Mengeluh berat. Pasagan! Pasangan yang dia sediri tidak kenal, tidak tahu
asal-usul, tiba-tiba sahaja mama mengatur pasangan hidupnya. Dia tidak tahu
mana satu harus dia ikut. Kata hati atau mama?
“Awak okey tak?” Fatihah meihat
muka Ayim yang seakan memikir masalah dunia. Terpaksa ambil berat tentang mamat
ni. Kenapa? Ibu dah bagi amaran kat akulah, bentak hati Fatihah.
Muka handsome
tapi pojaan hati elek.
“Tak.” Selamba jawapan itu keluar
dari mulutnya. Kan lebih baik jujur dengan diri sendiri nanti kalau menipu
boleh jadi makan hati.
“Awak, saya nak balik. Bosan duduk
dengan orang bisulah. Saya masih normal lagipun saya tak sempat belajar lagi
bahasa isyarat. Ajak orang keluar tapi baru satu soalan aje yang keluar. Itu
pun saya yang tanya. Kalau awak taknak keluar dengan saya, tak payahlah. Kalau
mak awak yang suruh, cakap ajelah awak tak nak. Kan senang. Buang masa saya,
buang tenaga, buang segala-galanya sejak awak dan mak awak datang rumah saya.
Susahkan diri aje nanti.” Fatihah melepaskan geram dengan kenyataan panjang
lebar. Terasa diri macam orang bodoh pun ada bila keluar dengan lelaki
seoalah-olah bisu tanpa suara.
Ayim pandang wajah Fatihah. Angkat
keningnya tanda tak mengerti.
“Kau kenapa? Tiba-tiba marah-marah.
Datang bulan eh?” Ayim ketawa kuat. Lucu melihat riak marah Fatihah. Comel.
Fatihah seorang perempuan kuat marah. Fakta sifat dalam diri Fatihah sudah
diketahuinya.
“Awak tu kenapa? Kita tengah
marah-marah, dia pulak gelak. Gila!” Bentak Fatihah. Laju langkah kakinya
meninggalkan Ayim. Dalam hati nak balik. Tak toleh belakang apabila Ayim
menjerit namanya. Peduli apa!
“Fatihah,
tunggulah. Nak pergi mana laju-laju ni? Aku main-main ajelah. Tak payahlah
terasa hati sangat.’’ Ayim menghadang jalan Fatihah. Betul-betul depan Fatihah.
Ayim tersenyum nakal. Fatihah
mengulangkembali kata-kata Ayim. Ayim membuntangkan matanya tanda marah. Fatihah merenung tajam Ayim dalam tiga saat tidak mahu mengalah. Kemudian
terletus ketawa mereka serentak.
“Aku tak sangka kau macam ni. Melawan
ehh! “Ayim berkata dalam sisa tawanya.
“Saya ke?” Fatihah tersenyum. Dia jatuh cinta
dengan mata milik Ayim. Rasa tenang dengan pandangan mata itu.
Masing-masing senyap. Melayan
perasaan sendiri. Kejap-kejap Ayim menoleh tengok Fatihah. Kejap-kejap Fatihah
pandang Ayim sekilas. Macam main lawan siapa bercakap, dia kalah.
“Jomlah aku hantar kau balik. Tadi
kau nak balik kan?” Ayim seakan-akan ingin bangun dari duduknya.
What?! Dia memang tak ada perut.
Ingatkan dah baik, boleh borak-borak balik. Hampagas Ayim! kutuk Fatihah sendirian.
Fatihah mendongak memandang Ayim
menginginkan kepastian akan kata-kata lelaki itu.
“Cepatlah bangun! Aku hantar kau.”
Tegas suara Ayim.
“Betul-betul ke?” Fatihah tetap
dengan posisinya. Duduk!
“Kau ingat aku main-main ke?”
“Tak.”
“So...”
“So apa?” soal Fatihah lagi. Bengong!
Kenapa otak aku jadi lembab slow motion ni.
“Cikgu?”
Fatihah angguk.
“Mengajar?”
Fatihah angguk lagi.
“Membaca?”
Angguk. Tiada suaranya pun yang
keluar berkata ‘betul’, ‘ya’, ‘aah’.
“Bisu ke?”
Angguk jugak.
“Serius?” Ayim menjerit kuat. Sakit
telinga wooo...
Fatihah
tersentak. Tersedar, Dari apa? Dia sendiri tidak tahu. Cepat-cepat Fatihah
memukul kepalanya sendiri. Bengong !
‘’Awak tanya
apa tadi ? Tak dengar ? ‘’ Fatihah tersengih malu.
‘’Tulah. Bila orang tanya dengar,
fokus dan tumpukan perhatian kat depan. Ini tidak! Lembap!” Selamba Ayim
mengutuk Fatihah depan-depan.
“Lembap? Awak cakap lembap kat
saya? Hello... tolong sikit. Saya pandai cuma tadi saya ting tong kejap.”
Fatihah pertahankan diri. Selamba badak sesuka hati aje cakap aku lembap. Aku ni
cikgulah, bentak Fatihah dalam hati.
“Dahlah. Dah salah taknka mengaku.
Aku nak tanya kau. Betul ke keputusan kau?”
“Betul. Saya tak nak ibu sedih.”
Fatihah muram.
“Sebab itu?”
“Yup. Itu aje.”
“Kau terima
aku sebab orang lain paksa. Tanpa cinta. Tanpa sayang. Biar betul ? kau
sanggup ? Aku tak… sebab aku nak kahwin atas dasar cinta bukan paksa. Jadi,
kalau kau tak setuju dan aku tak setuju… nanti sama-sama bincang dengan ibu kau
dengan mama aku. Boleh ? ‘’ Ayim kerling aku.
‘’Bukan awak jugak ke yang suruh
terima awak. Tak payah fikir-fikir lagi. Ibu pun suruh terima. Mama awak pun
sama. Saya pun jadi pening. Keliru. Then, sekarang ni awak suruh saya fikir
pulak. Bincang balik. Tak faham?” Fatihah pusing duduk betul-betul depan Ayim.
Dia tak faham dengan Ayim.
“Entahlah.” Pendek. Ayim baring
sambil mengeluh.
Fatihah senyap. Memandang Ayim sambil
memikirkan apa Ayim cakap. Dia tidak faham. Tetiba aje. Waarghhh... Gelora hati
yang tidak keruan.
“Nur Fatihah
binti Sulaiman. Fatihah. Tihah. Iha. Ha. A’a. Nama kau kan ? ‘’
Ayim bersuara tiba-tiba. Pantas Ayim bangun dari baringnya tadi. Dia tersenyum.
Berkerut seribu dahi milik Fatihah.
Tak faham. Ayim nak apa. Sengal! Kenapa time ni otak aku tak boleh
berfungsi dengan baik.
Bersambung nanti...
Subscribe to:
Posts (Atom)
My mom with two Calon Menantu
Hai morning, just nakshare how excitednya my mom bila this two men datang rumah last saturday. Actually my mom like macam boleh kata every...
-
Beginning Aku kenal dia pada nama. Tak pernah cakap, tak pernah pandang lama-lama. Aku cuba nak tegur tapi tak pernah ber...
-
5 tahun sebelumnya... Ramai pelajar-pelajar sudah tidak sabar-sabar nak garaduate... malam ini merupakan malam terakhir untuk mer...








